Kamis, 23 Januari 2014

Islam dan Toleransi



ISLAM DAN TOLERANSI

Surga merupakan tujuan seluruh umat Islam untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki, para pemikir Islam sejak dulu selalu memikirkan bagaimana cara untuk mencapai tujuan hakiki tersebut, sehingga munculah madzhab-madzhab maupun firqah-firqah Islam yang semuanya memiliki cara pandang berbeda-beda sehingga Islam saat ini banyak aliran dan juga banyak pemahaman, memang sungguh amat benarlah apa yang telah disinyalkan oleh pereformasi terbesar dunia ini yaitu nabi Muhammad SAW dengan sabdanya:
“Umat Yahudi berpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu golongan di jannah sedangkan tujuh puluh golongan di naar. Umat Nasrani berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, tujuh puluh satu golongan di naar sedangkan satu golongan di jannah. Demi Allah, yang jiwaku di tangan-Nya, umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu golongan di jannah sedangkan tujuh puluh dua golongan di naar”.( Ibnul Qayyim, ighasatul Lahfan Min Mashayid Asy-Syaithan‌, I/70 )

Firqah atau sekte adalah perbedaan pendapat didalam Aqidah Islam / dasar Islam, contohnya:
1.       Mu’tazilah
Sejarah munculnya mu’tazilah kelompok ini muncul di kota Bashrah ( IraQ ), pada abad ke – 2 Hijriyah , antara tahun 105 – 110 H , tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifa Hisyam Bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzal . nah kemunculan ini adalah karena Wasil bin Atha’ berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin dan bukan kafir yang berarti ia fasik. Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin. Inilah awal kemunculan paham ini dikarenakan perselisihan tersebut antar murid dan Guru , dan akhirnya golongan mu’tazilah pun dinisbahkan kepadanya. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok Mu’tazilah semakin berkembang dengan sekian banyak sektenya. Hingga kemudian para dedengkot mereka mendalami buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah manhaj mereka benar-benar terwarnai oleh manhaj ahli kalam
2.       Syi’ah
Dilihat dari bahasa berarti pengikut, pendukung, partai, atau kelompok, sedangkan secara terminologis adalah sebagian kaum muslim yang dalam bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad Saw. atau orang yang disebut sebagai ahl al-bait. Poin penting dalam doktrin Syi’ah adalah pernyataan bahwa segala petunjuk agama itu bersumber dari ahl al-bait. Mereka menolak petunjuk-petunjuk keagamaan dari para sahabat yang bukan ahl al-bait atau para pengikutnya.
Menurut Thabathabai, istilah Syi’ah untuk pertama kalinya ditujukan pada para pengikut Ali (Syi’ah Ali), pemimpin pertama ahl al-bait pada masa Nabi Muhammad Saw. para pengikut Ali yang disebut Syi’ah itu di antaranya adalah Abu Dzar Al- Ghiffari, Miqad bin Al-Aswad, dan Ammar bin Yasir.
3.       Sebagai reaksi dari firqah yang sesat, maka pada akhir abad ke 3 H timbullah golongan yang dikenali sebagai Ahlussunnah wal Jamaah yang dipimpin oleh 2 orang ulama besar dalam Usuluddin yaitu Syeikh Abu Hassan Ali Al Asy’ari dan Syeikh Abu Mansur Al Maturidi. Perkataan Ahlussunnah wal Jamaah kadang-kadang disebut sebagai Ahlussunnah saja atau Sunni saja dan kadang-kadang disebut Asy’ari atau Asya’irah dikaitkan dengan ulama besarnya yang pertama yaitu Abu Hassan Ali Asy’ari.
Aliran Al-Maturidiyah adalah sebuh  aliran yang  tidak   jauh   berbeda dengan aliran al-Asy'ariyah. Keduanya lahir sebagai bentuk pembelaan terhadap sunnah. Bila aliran   al-Asy'ariyah  berkembang di Basrah  maka aliran  al-Maturidiyah berkembang di Samargand.

Madzhab adalah perbedaan pendapat Islam didalam ibadah/cabang/fiqh, contohnya:
a.        Mazhab Hanafi
Mazhab Hanafi diasaskan oleh Nu’man bin Tsabit. Beliau lahir pada tahun 80 Hijrah. Beliau adalah seorang berjiwa besar dan berakhlak tinggi. Beliau seorang yang bijak dalam ilmu pengetahuan. Cekap memberikan satu-satu keputusan bagi masalah yang dihadapi.
b.       Mazhab Maliki
Beliau lahir di kota Madinah pada tahun 93 hijrah.
Imam Malik dilahirkan 13 tahun selepas kelahiran Imam Abu Hanifah. Sewaktu hidupnya, Iman Malik mengalami dua corak pemerintahan iaitu Ummaiyah dan Abbasiyah, di mana pertelingkahan sengit dua pemerintahan sering berlaku.Pada masa itu juga pengaruh ilmu pengetahuan Arab, Parsi dan Hindi tumbuh dengan suburnya di kalangan masyarakat. Iman Malik menghafaz al-Quran dan hadis Rasulullah. Ingatannya sangat kuat. Beliau mendengar hadis daripada guru. Kemudian terus disimpulkan tali bagi menyenangkan perhitungan bilangan hadis yang pelajarinya.
c.        Mazhab Syafie
Mazhab Syafie diasaskan oleh Muhamad bin Idris Al-Syafie. Beliau dilahirkan pada tahun 150 hijrah di sebuah bandar yang bernama Ghizah di Palestin.
Inilah tarikh paling masyhur dikalangan ahli sejarah.
Imam Syafie adalah keturunan Bani Hashim dan Abdul Mutalib. Keturunannya bertemu dengan keturunan Rasulullah di sebelah datuk Baginda iaitu Abdul Manaf.
Beliau seorang miskin, tetapi kaya dengan semangat dan bercita-cita tinggi dalam menuntut ilmu.
d.       Mazhab Hanbali
Pengasas mazhab Hanbali ialah Ahmad bin Mohamad bin Hanbal. Beliau lahir di bandar Baghdad pada tahun 164 hijrah.
Ibnu Hanbal dari keluarga miskin. Sewaktu bapanya meninggal dunia, keluarganya tidak ditinggalkan harta yang banyak kecuali sebuah rumah kecil yang didiaminya. Untuk menampung kehidupan, beliau terpaksa bekerja di kedai jahit.
Ibnu Hanbal menuntut ilmu sepanjang hayatnya. Beliau mempelajari hadis hingga menjadi seorang imam.
Seseorang pernah berkata kepadanya: “Sampai bilakah engkau hendak menuntut ilmu? Padahal engkau sudah mencapai darjat paling tinggi dan engkau telah menjadi imam bagi seluruh umat Islam?”
Demikianlah sekelumit contoh dari madzhab dan firqah dalam Islam dan tentunya masih banyak lagi sesuai yang dinyatakan rosulullah SAW diatas, yang sekarang sudah berkembang pesat didunia ini. 

Sodara Islam sekarang sungguh memprihatinkan sekali, dari perkembangan pendapat itu memunculkan berbagai konfik, seperti kekerasan yang dialami beberapa aliran Islam. Hal inilah yang harus dipikirkan semua kaum muslim dari berbagi pihak, masing masing kelompok harusnya saling intropeksi diri, cukup memperbaiki diri dan golonganya terlebih dahulu,Merujuklah kepada Al-Qur’an dan Al-Hadist sebagaimana yang telah di perintahkan Tuhan yang esa agama ini yaitu Allah SWT, jika tidak mungkin kehancuran umat Islam yang akan terjadi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar